“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. ”
-Bung Karno-
Sebuah
ungkapan yang sangat menggugah bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Sangat
tepat digaungkan ketika pemuda yang menjadi poros gerak kemajuan suatu bangsa
sudah mulai terkikis dengan perkembangan keglamoran zaman.
Pengorbanan
para pahlawan dalam merebut maupun mempertahankan kemerdekaan bangsa ini jelas
bukan merupakan hal sepele. Sulitnya bukan main, mereka telah mengorbankan
segalanya untuk negeri ini. Mereka merelakan pengorbanan tenaga, pikiran,
kesenangan, meluangkan waktu hingga meninggalkan keluarga. Sudah pasti, bukan
tindakan baik jika pemudanya malah sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Dengan
menceritakan sosok heroik pahlawan tersebut. Pastinya kita akan semakin kenal
dengan mereka. Kisah para pahlawan tersebut mungkin bisa memberikan sejuta
inspirasi yang mengubah hidup kita menjadi lebih berarti. Pahlawan yang akan
diceritakan disini berasal dari Kalimantan Selatan. Beliau bernama Hasan Basry.
http://bubuhanbanjar.wordpress.com
|
Hasan Basry lahir di Kandangan, Kalimantan
Selatan, pada tanggal 17 Juni 1923, menempuh pendidikan dasar di Hollands
Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Tsanawiyah al-Wataniah di Kandangan dan di Kweekschool Islam Pondok
Modern di Ponorogo Jawa Timur. Lingkungan pondok pesantren membentuk rasa
nasionalismenya. Karena
itu, setelah proklamasi kemerdekaan, beliau aktif dalam organisasi pemuda
Kalimantan yang berpusat di Surabaya. Melalui organisasi ini, ia mulai berjuang.
Pada bulan
Oktober 1945, Hasan Basry berangkat ke Banjarmasin untuk mempersiapkan basis
kedatangan ekspedisi militer dari Jawa untuk memperkuat perjuangan menghadapi
Belanda di Kalimantan Selatan. Beliau bekerja sama dengan badan-badan perjuangan, antara lain
dengan Laskar Syaifullah. Pada pertengahan tahun 1946, Belanda mengetahui
kegiatan Hasan basry dan kemudian melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh
Laskar Syaifullah. Hasan Basry dapat meloloskan diri dan membentuk Benteng
Indonesia sebagai wadah perjuangan yang baru.
Kemudian, Komandan Divisi
IV/ALRI di Jawa menugaskan Hasan Basry membentuk Batalyon ALRI di Kalimantan
Selatan pada bulan November 1946. Untuk membentuk batalion tersebut, ia melebur
Benteng Indonesia menjadi batalyon ALRI
Divisi IV pertahanan Kalimantan. Markas divisi itu dibangun di Kandangan. Ia
kemudian menggabungkan seluruh kekuatan bersenjata di Kalimantan Selatan dalam
kesatuan yang baru terbentuk itu.
Sesuai dengan
perjanjian Linggarjati 25 Maret 1947, belanda hanya mengakui kekuasaan RI
secara de facto atas Jawa, Madura,
dan Sumatera. Perkembangan
politik pemerintah pusat di jawa ini menyebabkan posisi Hasan Basry dan
pasukannya menjadi sulit. Berarti, Kalimantan merupakan wilayah kekuasaan
Belanda sesuai dengan
isi perjanjian Linggarjati. Namun, Hasan Basry dan pasukannya
tetap melanjutkan perjuangannya melawan Belanda dan tanpa terpengaruh dengan
isi perjanjian Linggarjati. Ia juga memperlihatkan sikap yang sama ketika
menghadapi perjanjian Renville 17 Januari 1948. Hasan Basry menolak melakukan
pemindahan pasukan ke daerah yang masih dikuasai RI, yaitu pulau Jawa.
Setelah beberapa waktu berlalu, Belanda
memulai Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Untuk menghadapi agresi
tersebut, Hasan Basry makin meningkatkan perjuangannya di Kalimantan Selatan.
Ia mengumumkan kepada seluruh pasukannya untuk kembali melancarkan serangan
terhadap seluruh kedudukan pasukan Belanda. Karena serangan itu, pada tanggal 1
Januari 1949 Belanda teraksa menarik pasukannya ke kota-kota. Hingga sampai terjadi persetujuan
Roem-Royen. Persetujuan Roem-Royen yang ditandatangani pada tanggal 7
mei 1949, tidak membuat Hasan Basry dapat mempercayai Belanda. Ia tetap
mengabaikan persetujuan Roem-Royen seperti ia mengabaikan perjanjian
Linggarjati dan perjanjian Renville. Pada tanggal 17 Mei 1949, Hasan Basry
memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Militer Tentara ALRI. Dalam proklamasi
itu dinyatakan bahwa Kalimantan Selatan tetap merupakan bagian dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
“
PROKLAMASI “
Merdeka :
Dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur Tentara dari “ALRI” melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia, untuk memenuhi isi Proklamasi 17 Agustus 1945 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetes darah yang penghabisan.
Tetap Merdeka !
Kandangan,17 Mei IV REP.
Atas nama rakyat Indonesia
di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara
HASSAN BASRY
Sesudah dicapai
gencatan senjata dengan pihak Belanda, ALRI DIVISI IV Kalimantan Selatan
dimasukkan ke dalam jajaran angkatan darat. Kemudian dibentuk divisi baru, yaitu
Divisi Lambung Mangkurat. Hasan Basry diangkat sebagai pimpinan dengan pangkat
Letnan Kolonel. Dalam perkembangannya, semua kesatuan Angkatan Darat di
Kalimantan bergabung dalam Tentara dan Teritorium VI/Tanjungpura. Letnan
Kolonel Hasan Basry ditetapkan sebagai komandan sub teritorium III Kalimantan
Selatan. Dalam kesatuan itu, Hasan Basry berkiprah hingga akhir hayatnya dengan
pangkat terakhir Brigadir Jenderal. Ia meninggal dunia pada tanggal 15 Juli
1984. Jenazahnya dimakamkan di Liang Anggang Banjarbaru. Atas jasa-jasanya, ia
dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI
No.110/TK/Tahun 2001, tanggal 3 November 2001 dan nama beliau pun banyak dijadikan sebagai nama
jalan di kota-kota besar.
Itulah cerita singkat mengenai
Brigjend (Purn) Hasan Basry. Sampai ketemu di edisi kepahlawanan berikutnya :) .
Haram Manyarah, Waja Sampai
Kaputing!
Merdeka!
Sumber: Setiana, Iwan.2011. Tokoh-Tokoh Fenomenal Paling Mempengaruhi Wajah Indonesia. Yogjakarta : Penerbit Laksana.
Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, datu abbas dan sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan letnan dua Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, sungai paring, mawangi, tabihi, durian rabung, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Kalimantan di Kandangan.
BalasHapusSemuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.