Rabu, 29 Februari 2012

Brigjend TNI (Purn) Hassan Basry


            “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. ”
            -Bung Karno-

            Sebuah ungkapan yang sangat menggugah bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Sangat tepat digaungkan ketika pemuda yang menjadi poros gerak kemajuan suatu bangsa sudah mulai terkikis dengan perkembangan keglamoran zaman.


            Pengorbanan para pahlawan dalam merebut maupun mempertahankan kemerdekaan bangsa ini jelas bukan merupakan hal sepele. Sulitnya bukan main, mereka telah mengorbankan segalanya untuk negeri ini. Mereka merelakan pengorbanan tenaga, pikiran, kesenangan, meluangkan waktu hingga meninggalkan keluarga. Sudah pasti, bukan tindakan baik jika pemudanya malah sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
           
            Dengan menceritakan sosok heroik pahlawan tersebut. Pastinya kita akan semakin kenal dengan mereka. Kisah para pahlawan tersebut mungkin bisa memberikan sejuta inspirasi yang mengubah hidup kita menjadi lebih berarti. Pahlawan yang akan diceritakan disini berasal dari Kalimantan Selatan. Beliau bernama Hasan Basry.

http://bubuhanbanjar.wordpress.com
            Hasan Basry lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, pada tanggal 17 Juni 1923, menempuh pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Tsanawiyah al-Wataniah di  Kandangan dan di Kweekschool Islam Pondok Modern di Ponorogo Jawa Timur. Lingkungan pondok pesantren membentuk rasa nasionalismenya. Karena itu, setelah proklamasi kemerdekaan, beliau aktif dalam organisasi pemuda Kalimantan yang berpusat di Surabaya. Melalui organisasi ini, ia mulai berjuang.
            

            Pada bulan Oktober 1945, Hasan Basry berangkat ke Banjarmasin untuk mempersiapkan basis kedatangan ekspedisi militer dari Jawa untuk memperkuat perjuangan menghadapi Belanda di Kalimantan Selatan. Beliau bekerja sama dengan badan-badan perjuangan, antara lain dengan Laskar Syaifullah. Pada pertengahan tahun 1946, Belanda mengetahui kegiatan Hasan basry dan kemudian melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Laskar Syaifullah. Hasan Basry dapat meloloskan diri dan membentuk Benteng Indonesia sebagai wadah perjuangan yang baru.

            Kemudian, Komandan Divisi IV/ALRI di Jawa menugaskan Hasan Basry membentuk Batalyon ALRI di Kalimantan Selatan pada bulan November 1946. Untuk membentuk batalion tersebut, ia melebur Benteng Indonesia menjadi batalyon  ALRI Divisi IV pertahanan Kalimantan. Markas divisi itu dibangun di Kandangan. Ia kemudian menggabungkan seluruh kekuatan bersenjata di Kalimantan Selatan dalam kesatuan yang baru terbentuk itu.

            Sesuai dengan perjanjian Linggarjati 25 Maret 1947, belanda hanya mengakui kekuasaan RI secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera. Perkembangan politik pemerintah pusat di jawa ini menyebabkan posisi Hasan Basry dan pasukannya menjadi sulit. Berarti, Kalimantan merupakan wilayah kekuasaan Belanda sesuai dengan isi perjanjian Linggarjati. Namun, Hasan Basry dan pasukannya tetap melanjutkan perjuangannya melawan Belanda dan tanpa terpengaruh dengan isi perjanjian Linggarjati. Ia juga memperlihatkan sikap yang sama ketika menghadapi perjanjian Renville 17 Januari 1948. Hasan Basry menolak melakukan pemindahan pasukan ke daerah yang masih dikuasai RI, yaitu pulau Jawa.

            Setelah beberapa waktu berlalu, Belanda memulai Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Untuk menghadapi agresi tersebut, Hasan Basry makin meningkatkan perjuangannya di Kalimantan Selatan. Ia mengumumkan kepada seluruh pasukannya untuk kembali melancarkan serangan terhadap seluruh kedudukan pasukan Belanda. Karena serangan itu, pada tanggal 1 Januari 1949 Belanda teraksa menarik pasukannya ke kota-kota. Hingga sampai terjadi persetujuan Roem-Royen. Persetujuan Roem-Royen yang ditandatangani pada tanggal 7 mei 1949, tidak membuat Hasan Basry dapat mempercayai Belanda. Ia tetap mengabaikan persetujuan Roem-Royen seperti ia mengabaikan perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville. Pada tanggal 17 Mei 1949, Hasan Basry memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Militer Tentara ALRI. Dalam proklamasi itu dinyatakan bahwa Kalimantan Selatan tetap merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.


 “ PROKLAMASI “


Merdeka :
 

Dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur Tentara dari “ALRI” melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia, untuk memenuhi isi Proklamasi 17 Agustus 1945 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetes darah yang penghabisan.



Tetap Merdeka !
Kandangan,17 Mei IV REP.
 

Atas nama rakyat Indonesia
di Kalimantan Selatan
 

Gubernur Tentara
HASSAN BASRY

          
       Sesudah dicapai gencatan senjata dengan pihak Belanda, ALRI DIVISI IV Kalimantan Selatan dimasukkan ke dalam jajaran angkatan darat. Kemudian dibentuk divisi baru, yaitu Divisi Lambung Mangkurat. Hasan Basry diangkat sebagai pimpinan dengan pangkat Letnan Kolonel. Dalam perkembangannya, semua kesatuan Angkatan Darat di Kalimantan bergabung dalam Tentara dan Teritorium VI/Tanjungpura. Letnan Kolonel Hasan Basry ditetapkan sebagai komandan sub teritorium III Kalimantan Selatan. Dalam kesatuan itu, Hasan Basry berkiprah hingga akhir hayatnya dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal. Ia meninggal dunia pada tanggal 15 Juli 1984. Jenazahnya dimakamkan di Liang Anggang Banjarbaru. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.110/TK/Tahun 2001, tanggal 3 November 2001 dan nama beliau pun banyak dijadikan sebagai nama jalan di kota-kota besar.

            Itulah cerita singkat mengenai Brigjend (Purn) Hasan Basry. Sampai ketemu di edisi kepahlawanan berikutnya :) .

            Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing!
            Merdeka!




Sumber: Setiana, Iwan.2011. Tokoh-Tokoh Fenomenal Paling Mempengaruhi Wajah Indonesia. Yogjakarta : Penerbit Laksana.

1 komentar:

  1. Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, datu abbas dan sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan letnan dua Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, sungai paring, mawangi, tabihi, durian rabung, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Kalimantan di Kandangan.
    Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    BalasHapus

Dipersilakan untuk mengisi komentar,
Jika mengandung SPAM atau SARA akan segera di hapus,
Terima Kasih.